20131016

04 TAROT dan EMPATI

Setelah saya menulis artikel Tarot dan Aura, Tarot dan Intuisi, Tarot dan Kehidupan, kini tiba saatnya untuk menulis artikel Tarot dan Empati. Pada artikel sebelumnya, saya coba membahas kartu Tarot dari berbagai sisi. Artikel Tarot dan Aura mencoba untuk meninjau Tarot menggunakan hukum fisika. Artikel Tarot dan Intuisi mencoba membahas penggunaan kartu Tarot sebagai sarana latihan untuk mempertajam intuisi. Artikel Tarot dan Kehidupan (akan dimuat pada buku Institut Tarot Indonesia) mencoba menerjemahkan rangkaian gambar kartu Tarot dan mengungkap keterhubungannya dengan kehidupan manusia.

Sedangkan pada tulisan kali ini saya mencoba memandang konsultasi Tarot dari sudut yang lain. Yaitu keterampilan konselor dalam mengunakan kemampuan empati dan mencoba menghubungkannya dengan gambar kartu Tarot yang tidak sengaja tercabut. Jadi tidak penting kartu apa yang terambil oleh klien. Karena semua kartu pasti punya kesesuaian dengan masalah klien. Yang penting konselor bisa menghubungkan gambar yang ada pada kartu dan korelasinya dengan masalah klien.

Dalam sesi konsultasi seperti ini, suasana yang tercipta jadi menyenangkan. Konselor akan membuat klien terkagum-kagum dengan keajaiban gambar kartu yang diambil sendiri oleh klien. "Kok bisa gambarnya pas banget sama masalah saya?", itulah komentar klien yang sering saya dengar. Sebenarnya gambarnya sih biasa saja, tapi konselor bisa membuatnya terlihat pas di mata klien. Kemampuan menghubungkan gambar kartu Tarot dengan masalah yang dihadapi klien bergantung pada kemampuan empati dari seorang konselor.

Apakah ini berarti penipuan? Tergantung dari sudut mana anda memandangnya. Jika konselor mengatakan kepastian masa depan yang tidak bisa diubah, maka ya itu adalah penipuan. Dengan intuisinya seorang konselor bisa memprediksi masa depan. Tapi ingatlah, dengan logika kita bisa menganalisa tentang usaha apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki keadaan di masa depan. Jika intuisi yang hadir sangat jelas tentang kepastian masa depan yang akan terjadi. Maka kita masih bisa mengusahakan perbaikan dengan cara memperbaiki kualitas doa kita pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kalau pun ramalan itu pada akhirnya benar-benar terjadi, jangan pernah menganggap peramal itu yang menentukan masa depan. Masa depan yang terjadi adalah kehendak Tuhan, kita wajib mengusahakan perbaikan melalui usaha dan doa. Ciri-ciri malapetaka atau keburukan masa depan yang akan terjadi adalah kita malas berusaha dan berdoa untuk mengubahnya. Kalau pun Tuhan menciptakan sebuah akibat, maka Tuhan pasti menciptakan sebabnya juga. Mampukah kita mengenali penyebab-penyebab itu dan berusaha serta berdoa untuk memperbaiki akibatnya di masa depan?

Bagi saya pribadi tidaklah penting apa yang dikatakan oleh peramal Tarot. Yang paling penting adalah apa akibat kata-kata itu pada diri klien. Pada Terapi Tarot Cur-Hat yang saya kembangkan, saya berusaha mengungkap hikmah dari masalah yang sedang dihadapi klien. Dengan bantuan tebaran kartu Tarot saya coba menjelaskan inti dan penyebab timbulnya masalah. Dengan cara ini saya meyakinkan klien bahwa masalah ini ada sumbernya. Hal ini berarti keadaan klien bisa diperbaiki dengan mengatasi penyebabnya.

Setelah pola pikir klien terbuka pada peluang adanya harapan untuk memperbaiki keadaan, maka saya akan mencoba memberi saran berupa nasehat dan motivasi. Hal ini adalah pemicu agar kilen merasa optimis dan semangat untuk memperbaiki kehidupannya. Rasa optimis dan semangat ini tergolong dalam kategori "Positive Feeling" atau perasaan positif. Perasaan positif akan mempengaruhi pancaran aura sehingga bergeser ke frekuensi positif. Cirinya adalah klien terlihat senang dan menyenangkan. Maka siaran-siaran di alam semesta yang berada di frekuensi positif, akan mampu untuk dinikmati oleh klien. Maka kehidupan klien akan hoki, fortune, selamat, beruntung, atau apapun namanya. Klien akan menemukan jalan keluar dari masalah dan akan menemukan jalan kesuksesannya.

Sekarang saya akan memberikan contoh kasus untuk anda analisa. Seorang peramal Tarot mengatakan bahwa anda akan menjadi pengusaha kaya raya dan dermawan. Lalu anda termotivasi untuk mewujudkan ramalan itu. Dan pada akhirnya ramalan itu terwujud. Mana yang lebih hebat, peramal yang tau masa depan, atau anda yang membangun masa depan?

Bagaimana jika kasusnya diubah. Seorang peramal Tarot mengatakan bahwa anda tidak akan sukses menjadi pengusaha dan selamanya hanya jadi staf pegawai yang tidak akan naik pangkat. Lalu anda termotivasi untuk bangkit dan menentang ramalan itu. Dan ramalan itu pada akhirnya tidak terbukti. Mana yang lebih penting, membuktikan bahwa ramalan itu salah, atau menjadi pengusaha sukses?

Pertanyaan-pertanyaan di atas berusaha memberikan pemahaman bahwa perkataan peramal Tarot itu tidak penting, kartu Tarot yang terambil juga tidak penting. Yang paling penting adalah apa akibat yang ditimbulkan kata-kata peramal dan gambar-gambar kartu Tarot pada klien. Sebagai peramal Tarot harapan saya adalah anda bisa bangkit dari keterpurukan, menjalani hidup yang optimis, bersemangat, dan penuh syukur. Dan perasaan positif yang anda pancarkan akan membuat hidup anda hoki, fortune, selamat, atau beruntung.

Empati
Banyak orang umum dan ahli yang mencoba merumuskan arti kata empati. Bagi saya pribadi empati adalah kemampuan memahami orang lain dengan cara memahami diri sendiri. Dalam kasus yang lebih luas kita juga bisa memahami hewan, tumbuh-tumbuhan, alam semesta, kejadian, suara, warna, bintang, garis tangan, wajah, tingkah laku, dan lain-lain melalui memahami diri sendiri. Karena sesungguhnya segala sesuatu yang kita alami dan saksikan dalam hidup ini adalah rajutan lambang-lambang yang mewakili perasaan tertentu. Dan semua perasaan yang ada di dunia ini, sudah ada sejak dulu dalam diri kita. Kita tinggal menemukan pengalaman atau penyaksian yang membangkitkan perasaan tersebut.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, kita menemukan pengalaman hidup di luar diri, tapi kita merasakan rasanya di dalam diri. Sebagai contoh: kita bertemu dengan seorang tokoh masyarakat, maka rasa yang mungkin timbul di perasaan kita, beliau adalah orang yang sombong. Atau mungkin juga timbul perasaan beliau adalah orang yang rendah hati. Contoh lainnya: kita minum air teh hangat, maka rasa yang mungkin timbul di perasaan kita, air teh ini menyegarkan rasanya tawar. Atau mungkin juga timbul perasaan air teh ini menyenangkan rasanya manis.

Inti dari empati adalah kejujuran dalam merasakan perasaan kita yang terdalam. Distorsi kejujuran terletak pada kepentingan pribadi dan pengaruh logika yang tidak bisa mengerti tentang apa yang dirasakan. Maka hentikanlah pikiran, heningkanlah keinginan, dan perlambat geombang otak lewat pernafasan dan konsentrasi. Dengan cara tersebut, maka kita bisa lebih jujur dalam merasakan, yaitu tanpa pengaruh asumsi-asumsi yang telah kita ciptakan sebelumnya.

Dalam sebuah sesi konsultasi, dengarkanlah keluhan dan pertanyaan klien. Perhatikan juga tingkah-laku dan cara berpakaian klien. Untuk memahami klien maka rasakanlah perasaan yang timbul dalam diri kita. Memang sangat sulit untuk jujur dalam merasakan. Salah satu cara mengatasi distorsi adalah dengan menggunakan gambar-gambar pada kartu Tarot untuk membuat perhatian logika kita teralihkan ke kartu. Jika mata kita melihat sebuah gambar yang bersesuaian dengan masalah klien, maka perasaan kita akan jelas tentang apa yang seharusnya dikatakan dan apa yang seharusnya jangan dikatakan.

Logika berpikir dengan cara rasional, yaitu membandingkan sesuatu dengan yang lainnya. Maka itu logika tidak bisa mengambil keputusan terbaik, karena secara logika keputusan terbaik itu tidak ada. Semakin banyak belajar maka kita semakin tau bahwa selalu ada keputusan yang lebih baik lagi.

Tidak demikian halnya dengan perasaan terdalam. Ia tau apa yang harus dilakukan dan dikatakan walaupun logika kita belum memahaminya. Mungkin juga ini yang disebut "Rasa Sejati". Banyak peramal Tarot yang saya kenal memanfaatkan rasa terdalam ini untuk memberikan nasehat dan motivasi. Untuk mengakses rasa ini sebagian Peramal Tarot murni menggunakan kartu Tarotnya. Dan sebagian yang lainnya mengakses rasa ini lewat cara yang unik, kemudian disampaikan menggunakan kartu Tarot. Dalam hal ini kartu Tarot tidak lebih dari sekedar alat peraga saja. Inilah yang saya maksud dengan memanfaatkan empati dalam konsultasi kartu Tarot.

Pada kesempatan kali ini saya tertarik untuk membahas peramal Tarot yang menggunakan kartu Tarot hanya sebagai alat peraga dalam memberikan nasehat dan motivasi. Sebagaimana pendapat saya di atas bahwa empati adalah kemampuan memahami orang lain dengan cara memahami diri sendiri, maka kata kuncinya adalah kejujuran dalam merasakan perasaan kita yang terdalam. Dan untuk merasakan perasaan terdalam ini banyak peramal yang membutuhkan pemicu.

Ada peramal yang sensitif saat mendeteksi suara, wajah, mata, telapak tangan, tanggal lahir, astrologi, tanda tangan, ampas teh, ampas kopi, postur, gestur, dan lain-lain. Biasanya sensitifitas ini didapatkan secara alami dan tidak belajar secara khusus. Ini berkaitan dengan kondisi tanpa ego. Ada orang yang egonya memuncak jika melihat wajah cantik. Maka orang seperti ini tidak bisa sensitif jika mendeteksi wajah. Jika dipaksakan maka ia tidak dapat jujur mengakses perasaan terdalam dan hanya menyampaikan yang baik-baik saja pada klien yang cantik.

Kesimpulan
Temukanlah pemicu yang sesuai bagi anda. Yaitu sesuatu pada seseorang yang memungkinkan anda mencapai kondisi tanpa ego dalam merasakan rasa terdalam. Misalnya saja coba membaca tulisan tangan klien saat menuliskan nama di daftar tamu. Maka dengan sekejap saja anda tau dengan siapa anda sedang berhadapan. Selanjutnya persilahkan klien memilih kartu. Maka presentasikanlah rasa terdalam yang anda rasakan saat membaca tulisan tangan klien, melalui alat peraga berupa tebaran kartu Tarot. Maka klien akan terkejut dengan ketepatan pembacaan anda. Apakah kartunya yang tepat? Bukan, tapi presentasinya yang memukau. Ingat tugas fortune teller, yaitu membuat seseorang menjadi beruntung. Caranya rasakan dengan empati apa yang bisa membahagiakan klien. Lalu beri nasehat dan motivasi agar klien yakin untuk menempuh jalan itu. Presentasikanlah dengan katu Tarot secara memukau. Maka klien anda akan optimis, bersemangat, penuh syukur, dan selalu beruntung.