Setelah
saya menulis artikel Tarot dan Aura, Tarot dan Intuisi, Tarot dan
Kehidupan, kini tiba saatnya untuk menulis artikel Tarot dan Empati.
Pada artikel sebelumnya, saya coba membahas kartu Tarot dari berbagai
sisi. Artikel Tarot dan Aura mencoba untuk meninjau Tarot menggunakan
hukum fisika. Artikel Tarot dan Intuisi mencoba membahas penggunaan
kartu Tarot sebagai sarana latihan untuk mempertajam intuisi. Artikel
Tarot dan Kehidupan (akan dimuat pada buku Institut Tarot Indonesia)
mencoba menerjemahkan rangkaian gambar kartu Tarot dan mengungkap
keterhubungannya dengan kehidupan manusia.
Sedangkan
pada tulisan kali ini saya mencoba memandang konsultasi Tarot dari
sudut yang lain. Yaitu keterampilan konselor dalam mengunakan
kemampuan empati dan mencoba menghubungkannya dengan gambar kartu
Tarot yang tidak sengaja tercabut. Jadi tidak penting kartu apa yang
terambil oleh klien. Karena semua kartu pasti punya kesesuaian dengan
masalah klien. Yang penting konselor bisa menghubungkan gambar yang
ada pada kartu dan korelasinya dengan masalah klien.
Dalam
sesi konsultasi seperti ini, suasana yang tercipta jadi menyenangkan.
Konselor akan membuat klien terkagum-kagum dengan keajaiban gambar
kartu yang diambil sendiri oleh klien. "Kok bisa gambarnya pas
banget sama masalah saya?", itulah komentar klien yang sering
saya dengar. Sebenarnya gambarnya sih biasa saja, tapi konselor bisa
membuatnya terlihat pas di mata klien. Kemampuan menghubungkan gambar
kartu Tarot dengan masalah yang dihadapi klien bergantung pada
kemampuan empati dari seorang konselor.
Apakah
ini berarti penipuan? Tergantung dari sudut mana anda memandangnya.
Jika konselor mengatakan kepastian masa depan yang tidak bisa diubah,
maka ya itu adalah penipuan. Dengan intuisinya seorang konselor bisa
memprediksi masa depan. Tapi ingatlah, dengan logika kita bisa
menganalisa tentang usaha apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki
keadaan di masa depan. Jika intuisi yang hadir sangat jelas tentang
kepastian masa depan yang akan terjadi. Maka kita masih bisa
mengusahakan perbaikan dengan cara memperbaiki kualitas doa kita pada
Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kalau
pun ramalan itu pada akhirnya benar-benar terjadi, jangan pernah
menganggap peramal itu yang menentukan masa depan. Masa depan yang
terjadi adalah kehendak Tuhan, kita wajib mengusahakan perbaikan
melalui usaha dan doa. Ciri-ciri malapetaka
atau keburukan masa depan yang akan terjadi adalah kita malas
berusaha dan berdoa untuk mengubahnya. Kalau
pun Tuhan menciptakan sebuah akibat, maka Tuhan pasti menciptakan
sebabnya juga. Mampukah kita mengenali penyebab-penyebab itu dan
berusaha serta berdoa untuk memperbaiki akibatnya di masa depan?
Bagi
saya pribadi tidaklah penting apa yang dikatakan oleh peramal Tarot.
Yang paling penting adalah apa akibat kata-kata itu pada diri klien.
Pada Terapi Tarot Cur-Hat yang saya kembangkan, saya berusaha
mengungkap hikmah dari masalah yang sedang dihadapi klien. Dengan
bantuan tebaran kartu Tarot saya coba menjelaskan inti dan penyebab
timbulnya masalah. Dengan cara ini saya meyakinkan klien bahwa
masalah ini ada sumbernya. Hal ini berarti keadaan klien bisa
diperbaiki dengan mengatasi penyebabnya.
Setelah
pola pikir klien terbuka pada peluang adanya harapan untuk
memperbaiki keadaan, maka saya akan mencoba memberi saran berupa
nasehat dan motivasi. Hal ini adalah pemicu agar kilen merasa optimis
dan semangat untuk memperbaiki kehidupannya. Rasa optimis dan
semangat ini tergolong dalam kategori "Positive Feeling"
atau perasaan positif. Perasaan positif akan mempengaruhi pancaran
aura sehingga bergeser ke frekuensi positif. Cirinya adalah klien
terlihat senang dan menyenangkan. Maka siaran-siaran di alam semesta
yang berada di frekuensi positif, akan mampu untuk dinikmati oleh
klien. Maka kehidupan klien akan hoki, fortune, selamat, beruntung,
atau apapun namanya. Klien akan menemukan jalan keluar dari masalah
dan akan menemukan jalan kesuksesannya.
Sekarang
saya akan memberikan contoh kasus untuk anda analisa. Seorang peramal
Tarot mengatakan bahwa anda akan menjadi pengusaha kaya raya dan
dermawan. Lalu anda termotivasi untuk mewujudkan ramalan itu. Dan
pada akhirnya ramalan itu terwujud. Mana yang lebih hebat, peramal
yang tau masa depan, atau anda yang membangun masa depan?
Bagaimana
jika kasusnya diubah. Seorang peramal Tarot mengatakan bahwa anda
tidak akan sukses menjadi pengusaha dan selamanya hanya jadi staf
pegawai yang tidak akan naik pangkat. Lalu anda termotivasi untuk
bangkit dan menentang ramalan itu. Dan ramalan itu pada akhirnya
tidak terbukti. Mana yang lebih penting, membuktikan bahwa ramalan
itu salah, atau menjadi pengusaha sukses?
Pertanyaan-pertanyaan
di atas berusaha memberikan pemahaman bahwa perkataan peramal Tarot
itu tidak penting, kartu Tarot yang terambil juga tidak penting. Yang
paling penting adalah apa akibat yang ditimbulkan kata-kata peramal
dan gambar-gambar kartu Tarot pada klien. Sebagai peramal Tarot
harapan saya adalah anda bisa bangkit dari keterpurukan, menjalani
hidup yang optimis, bersemangat, dan penuh syukur. Dan perasaan
positif yang anda pancarkan akan membuat hidup anda hoki, fortune,
selamat, atau beruntung.
Empati
Banyak
orang umum dan ahli yang mencoba merumuskan arti kata empati. Bagi
saya pribadi empati adalah kemampuan memahami orang lain dengan cara
memahami diri sendiri. Dalam kasus yang lebih
luas kita juga bisa memahami hewan, tumbuh-tumbuhan, alam semesta,
kejadian, suara, warna, bintang, garis tangan, wajah, tingkah laku,
dan lain-lain melalui memahami diri sendiri. Karena sesungguhnya
segala sesuatu yang kita alami dan saksikan dalam hidup ini adalah
rajutan lambang-lambang yang mewakili perasaan tertentu. Dan semua
perasaan yang ada di dunia ini, sudah ada sejak dulu dalam diri kita.
Kita tinggal menemukan pengalaman atau penyaksian yang membangkitkan
perasaan tersebut.
Dalam
bahasa yang lebih sederhana, kita menemukan pengalaman hidup di luar
diri, tapi kita merasakan rasanya di dalam diri. Sebagai contoh: kita
bertemu dengan seorang tokoh masyarakat, maka rasa yang mungkin
timbul di perasaan kita, beliau adalah orang yang sombong. Atau
mungkin juga timbul perasaan beliau adalah orang yang rendah hati.
Contoh lainnya: kita minum air teh hangat, maka rasa yang mungkin
timbul di perasaan kita, air teh ini menyegarkan rasanya tawar. Atau
mungkin juga timbul perasaan air teh ini menyenangkan rasanya manis.
Inti
dari empati adalah kejujuran dalam merasakan perasaan kita yang
terdalam. Distorsi kejujuran terletak pada kepentingan pribadi dan
pengaruh logika yang tidak bisa mengerti tentang apa yang dirasakan.
Maka hentikanlah pikiran, heningkanlah keinginan, dan perlambat
geombang otak lewat pernafasan dan konsentrasi. Dengan cara tersebut,
maka kita bisa lebih jujur dalam merasakan, yaitu tanpa pengaruh
asumsi-asumsi yang telah kita ciptakan sebelumnya.
Dalam
sebuah sesi konsultasi, dengarkanlah keluhan dan pertanyaan klien.
Perhatikan juga tingkah-laku dan cara berpakaian klien. Untuk
memahami klien maka rasakanlah perasaan yang timbul dalam diri kita.
Memang sangat sulit untuk jujur dalam merasakan. Salah satu cara
mengatasi distorsi adalah dengan menggunakan gambar-gambar pada kartu
Tarot untuk membuat perhatian logika kita teralihkan ke kartu. Jika
mata kita melihat sebuah gambar yang bersesuaian dengan masalah
klien, maka perasaan kita akan jelas tentang apa yang seharusnya
dikatakan dan apa yang seharusnya jangan dikatakan.
Logika
berpikir dengan cara rasional, yaitu membandingkan sesuatu dengan
yang lainnya. Maka itu logika tidak bisa mengambil keputusan terbaik,
karena secara logika keputusan terbaik itu tidak ada. Semakin banyak
belajar maka kita semakin tau bahwa selalu ada keputusan yang lebih
baik lagi.
Tidak
demikian halnya dengan perasaan terdalam. Ia tau apa yang harus
dilakukan dan dikatakan walaupun logika kita belum memahaminya.
Mungkin juga ini yang disebut "Rasa Sejati". Banyak peramal
Tarot yang saya kenal memanfaatkan rasa terdalam ini untuk memberikan
nasehat dan motivasi. Untuk mengakses rasa ini sebagian Peramal Tarot
murni menggunakan kartu Tarotnya. Dan sebagian yang lainnya mengakses
rasa ini lewat cara yang unik, kemudian disampaikan menggunakan kartu
Tarot. Dalam hal ini kartu Tarot tidak lebih dari sekedar alat peraga
saja. Inilah yang saya maksud dengan memanfaatkan empati dalam
konsultasi kartu Tarot.
Pada
kesempatan kali ini saya tertarik untuk membahas peramal Tarot yang
menggunakan kartu Tarot hanya sebagai alat peraga dalam memberikan
nasehat dan motivasi. Sebagaimana pendapat saya di atas bahwa empati
adalah kemampuan memahami orang lain dengan cara memahami diri
sendiri, maka kata kuncinya adalah kejujuran
dalam merasakan perasaan kita yang terdalam. Dan untuk merasakan
perasaan terdalam ini banyak peramal yang membutuhkan pemicu.
Ada
peramal yang sensitif saat mendeteksi suara, wajah, mata, telapak
tangan, tanggal lahir, astrologi, tanda tangan, ampas teh, ampas
kopi, postur, gestur, dan lain-lain. Biasanya sensitifitas ini
didapatkan secara alami dan tidak belajar secara khusus. Ini
berkaitan dengan kondisi tanpa ego. Ada orang yang egonya memuncak
jika melihat wajah cantik. Maka orang seperti ini tidak bisa sensitif
jika mendeteksi wajah. Jika dipaksakan maka ia tidak dapat jujur
mengakses perasaan terdalam dan hanya menyampaikan yang baik-baik
saja pada klien yang cantik.
Kesimpulan
Temukanlah
pemicu yang sesuai bagi anda. Yaitu sesuatu pada seseorang yang
memungkinkan anda mencapai kondisi tanpa ego dalam merasakan rasa
terdalam. Misalnya saja coba membaca tulisan tangan klien saat
menuliskan nama di daftar tamu. Maka dengan sekejap saja anda tau
dengan siapa anda sedang berhadapan. Selanjutnya persilahkan klien
memilih kartu. Maka presentasikanlah rasa terdalam yang anda rasakan
saat membaca tulisan tangan klien, melalui alat peraga berupa tebaran
kartu Tarot. Maka klien akan terkejut dengan ketepatan pembacaan
anda. Apakah kartunya yang tepat? Bukan, tapi presentasinya yang
memukau. Ingat tugas fortune teller, yaitu membuat seseorang menjadi
beruntung. Caranya rasakan dengan empati apa yang bisa membahagiakan
klien. Lalu beri nasehat dan motivasi agar klien yakin untuk menempuh
jalan itu. Presentasikanlah dengan katu Tarot secara memukau. Maka
klien anda akan optimis, bersemangat, penuh syukur, dan selalu
beruntung.