Segala
sesuatu yang ada di dunia ini sebenarnya mutlak, yaitu: "begitu
ya begitu sebagai -mana adanya". Namun manusia memiliki
nilai-nilai yang berasal dari dirinya sendiri atau dari lingkungan
masyarakat. Sehingga manusia menilai sesuatu itu sebagai baik atau
buruk, salah atau benar, indah atau tidak, enak atau tidak, dan
lain-lain.
Perbedaan
nilai dari sesuatu itu sebenarnya hanya perbedaan sudut pandang dan
pola pikir saja. Apa yang diyakini oleh masyarakat luas sebagai baik,
sebenarnya hanya sebuah kesepakatan bersama yang disetujui.
Kesepakatan itu hanya bisa terjadi pada kelompok masyarakat yang
menyamakan sudut pandang dan pola pikir, baik secara sukarela maupun
secara terpaksa.
Dalam
ilmu devinasi, dikenal berbagai alat bantu. Ilmu devinasi adalah cara
untuk mengetahui petunjuk Tuhan. Alat bantu itu bisa berupa kartu
Tarot, kartu Oracle, kartu Remi, kartu Ceki, pendulum, ampas teh,
ampas kopi, garis tangan, numerologi, astrologi, dan masih banyak
alat bantu lainnya. Petunjuk Tuhan dapat dibaca atau dipelajari dari
gejala alam dan hukum-hukum yang mengaturnya. Karena alam semesta ini
diatur oleh Tuhan melalui ketaksadaran yang saling terhubung secara
kolektif.
Jadi
seorang peramal meramalkan masa depan seseorang dengan membaca gejala
alam yang diatur oleh hukum-hukum alam ciptaan Tuhan. Ada yang mampu
membaca gejala alam menggunakan pikiran sadarnya, dan ada juga yang
hanya mampu membaca gejala alam menggunakan pikiran bawah sadarnya.
Sedangkan fungsi dari alat bantu devinasi adalah untuk membantu
pikiran sadar peramal agar mendapatkan intuisi dari pikiran bawah
sadarnya. Karena pikiran bawah sadar seseorang itu terhubung dengan
ketaksadaran kolektif.
Kekurangan
Metoda Ramalan Kartu Tarot
Salah
satu alat bantu yang relatif akurat dan paling diminati di seluruh
dunia adalah metoda ramalan menggunakan kartu Tarot. Setiap metoda
dan alat bantu dalam teknik devinasi pasti mempunyai kelebihan dan
kekurangan. Karena menurut kesepakatan yang berlaku secara umum di
masyarakat, "tidak ada sesuatu pun yang sempurna, kesempurnaan
hanya milik Tuhan".
Para
pewacana Tarot yang sudah senior pasti menyadari hal ini. Dan tentu
saja mereka pasti mempunyai cara untuk mengatasi kekurangan pada
metoda ramalan menggunakan kartu Tarot. Misalnya: melakukan beberapa
teknik devinasi dan membandingkan hasilnya, atau dengan menghapal
pola yang biasa terjadi saat kartu Tarot tidak berfungsi.
Penyebab
Kegagalan Metoda Tarot
Ada
banyak hal yang menyebabkan kegagalan metoda ramalan menggunakan
kartu Tarot. Menurut sumber masalahnya kita bisa membagi menjadi
empat penyebab utama, yaitu: kesiapan pewacana, tipe klien, faktor
lingkungan, dan teknik konsultasi.
Untuk
kesiapan pewacana, faktor lingkungan, dan teknik konsultasi, bisa
kita siasati atau bisa kita persiapkan dengan sebaik-baiknya. Tapi
yang sulit untuk kita atasi adalah jika penyebab kegagalan metoda
ramalan Tarot berasal dari tipe klien yang menggunakan jasa
konsultasi.
INGAT
!!!
Yang
saya maksud gagal adalah tidak bekerjanya kartu Tarot, bukan
kesalahan interpretasi pewacana Tarot.
Ada
tiga tipe klien yang membuat katu Tarot yang terambil sulit untuk
di-interpretasikan. Artinya pewacana sulit mendapatkan intuisi dari
pikiran bawah sadarnya. Ketiga tipe itu yaitu:
Klien
Yang Menutup Diri
Adalah
klien yang tidak mengizinkan pewacana Tarot untuk meng-akses pikiran
bawah sadarnya. Biasanya hal ini dilakukan oleh klien yang mempunyai
kesalahan yang ditutup-tutupi atau klien yang mempunyai trauma masa
lalu yang tidak ingin ia ingat-ingat lagi. Hal ini juga sering
terjadi pada orang yang ingin menguji keterampilan pewacana. Yaitu
klien yang sengaja menutup dirinya agar tidak terbaca oleh pewacana
Tarot.
Klien
Yang Super Bingung
Adalah
klien yang tidak tau apa yang ia inginkan. Klien seperti ini biasanya
mempunyai karakter plegmatis yang dominan. Cirinya adalah klien
tersebut sering memendam keinginan pribadinya dalam-dalam. Karena
dipendam terlalu dalam, maka sulit untuk dirasakan kembali apa yang
sebenarnya diinginkan.
Kegiatan
memendam keinginan ini sebenarnya adalah efek dari karakter plegmatis
yang diturunkan atau dipelajari dari ayah atau ibunya. Yaitu sifat
seseorang yang selalu menghindari konflik. Caranya adalah dengan
menuruti keinginan orang lain dan mengesampingkan keinginan
pribadinya. Orang seperti ini menjalani hidupnya dengan kecerdasan
inderawi atau sensoris. Artinya hidupnya dijalani dengan merespon
keadaan lingkungan. Efek negatif dari kebiasaan ini adalah kehilangan
jati diri. Sehingga klien tersebut bingung tentang apa yang
benar-benar ia inginkan. Aura kebingungan ini akan membuat pikiran
bawah sadar klien mengambil kartu yang mencerminkan kebingungannya.
Wajarlah jika pewacana Tarot menjadi bingung saat berusaha
menginterpretasikannya.
Klien
Yang Super Sadar
Adalah
klien yang telah dewasa pikirannya dan mempunyai kemampuan
pengendalian diri yang sangat tinggi. Klien seperti ini biasanya
telah mempunyai kesadaran spiritual. Yaitu telah menyadari bahwa
dirinya bukanlah pikiran, perasaan, atau tubuh, melainkan ruh yang
berada di balik semua itu. Dengan kesadaran seperti ini, ia akan
mampu mengendalikan pikiran, perasaan, dan tubuhnya, untuk mewujudkan
masa depan yang ia inginkan.
Vibrasi
gelombang aura klien yang super sadar sangatlah halus, yaitu
mempunyai frekuensi dominan yang sangat rendah (hampir tidak
berpikir) dengan amplitudo yang sangat kecil (emosinya tidak gampang
terpengaruh). Aura semacam ini membuat tangan klien yang mengambil
kartu Tarot digerakkan oleh pikiran sadarnya, dan bukan oleh pikiran
bawah sadarnya. Hal ini biasanya terjadi karena wilayah kesadarannya
telah menyadari wilayah pikiran bawah sadarnya. Artinya klien bisa
tetap sadar walaupun gelombang otak turun ke frekuensi tetha.
Klien
dengan tipe super sadar biasanya pikirannya tenang dan hatinya damai.
Hidupnya dijalani dengan mengalir. Yaitu hanya menginginkan apa yang
seharusnya diinginkan. Dan apapun yang diinginkannya akan mampu ia
wujudkan. Sehingga kartu Tarot yang terambil akan tidak beraturan
polanya. Karena biasanya saat mengambil kartu sang klien tidak ada
keinginan apa-apa. Kalo saja ia ingin kartunya bagus, maka hanya
kartu bagus yang terambil.
Wajarlah
jika pewacana Tarot kesulitan memprediksi atau meramal masa depannya.
Karena masa depan klien seperti ini terserah kepada dirinya sendiri.
Ia akan mampu membolak-balikkan masa depan sesuai dengan apa yang
seharusnya ia wujudkan.
Kesimpulan
Untuk
pewacana Tarot diharapkan terus-menerus meningkatkan keahliannya
untuk membantu diri sendiri dan orang lain. Sebaiknya setiap sesi
konsultasi dilakukan dengan optimal. Yaitu dengan memperhatikan
kesiapan pewacana, faktor lingkungan, dan teknik konsultasi yang
sesuai dengan keadaan lingkungan dan klien.
Kembangkanlah
metode alternatif untuk mengatasi kekurangan metoda ramalan kartu
Tarot. Yaitu saat menghadapi klien yang menutup diri, super bingung,
atau super sadar. Karena ketiga tipe klien tersebut akan membuat
kartu yang terambil sulit diinterpretasikan.
Kekacauan
pola kartu yang terambil disebabkan oleh bekerjanya hukum
tarik-menarik pada lingkungan yang merespon ketiga tipe klien
tersebut.