20131016

08 TAROT dan KEKURANGANNYA

Segala sesuatu yang ada di dunia ini sebenarnya mutlak, yaitu: "begitu ya begitu sebagai -mana adanya". Namun manusia memiliki nilai-nilai yang berasal dari dirinya sendiri atau dari lingkungan masyarakat. Sehingga manusia menilai sesuatu itu sebagai baik atau buruk, salah atau benar, indah atau tidak, enak atau tidak, dan lain-lain.

Perbedaan nilai dari sesuatu itu sebenarnya hanya perbedaan sudut pandang dan pola pikir saja. Apa yang diyakini oleh masyarakat luas sebagai baik, sebenarnya hanya sebuah kesepakatan bersama yang disetujui. Kesepakatan itu hanya bisa terjadi pada kelompok masyarakat yang menyamakan sudut pandang dan pola pikir, baik secara sukarela maupun secara terpaksa.

Dalam ilmu devinasi, dikenal berbagai alat bantu. Ilmu devinasi adalah cara untuk mengetahui petunjuk Tuhan. Alat bantu itu bisa berupa kartu Tarot, kartu Oracle, kartu Remi, kartu Ceki, pendulum, ampas teh, ampas kopi, garis tangan, numerologi, astrologi, dan masih banyak alat bantu lainnya. Petunjuk Tuhan dapat dibaca atau dipelajari dari gejala alam dan hukum-hukum yang mengaturnya. Karena alam semesta ini diatur oleh Tuhan melalui ketaksadaran yang saling terhubung secara kolektif.

Jadi seorang peramal meramalkan masa depan seseorang dengan membaca gejala alam yang diatur oleh hukum-hukum alam ciptaan Tuhan. Ada yang mampu membaca gejala alam menggunakan pikiran sadarnya, dan ada juga yang hanya mampu membaca gejala alam menggunakan pikiran bawah sadarnya. Sedangkan fungsi dari alat bantu devinasi adalah untuk membantu pikiran sadar peramal agar mendapatkan intuisi dari pikiran bawah sadarnya. Karena pikiran bawah sadar seseorang itu terhubung dengan ketaksadaran kolektif.

Kekurangan Metoda Ramalan Kartu Tarot
Salah satu alat bantu yang relatif akurat dan paling diminati di seluruh dunia adalah metoda ramalan menggunakan kartu Tarot. Setiap metoda dan alat bantu dalam teknik devinasi pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Karena menurut kesepakatan yang berlaku secara umum di masyarakat, "tidak ada sesuatu pun yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Tuhan".

Para pewacana Tarot yang sudah senior pasti menyadari hal ini. Dan tentu saja mereka pasti mempunyai cara untuk mengatasi kekurangan pada metoda ramalan menggunakan kartu Tarot. Misalnya: melakukan beberapa teknik devinasi dan membandingkan hasilnya, atau dengan menghapal pola yang biasa terjadi saat kartu Tarot tidak berfungsi.

Penyebab Kegagalan Metoda Tarot
Ada banyak hal yang menyebabkan kegagalan metoda ramalan menggunakan kartu Tarot. Menurut sumber masalahnya kita bisa membagi menjadi empat penyebab utama, yaitu: kesiapan pewacana, tipe klien, faktor lingkungan, dan teknik konsultasi.

Untuk kesiapan pewacana, faktor lingkungan, dan teknik konsultasi, bisa kita siasati atau bisa kita persiapkan dengan sebaik-baiknya. Tapi yang sulit untuk kita atasi adalah jika penyebab kegagalan metoda ramalan Tarot berasal dari tipe klien yang menggunakan jasa konsultasi.

INGAT !!!
Yang saya maksud gagal adalah tidak bekerjanya kartu Tarot, bukan kesalahan interpretasi pewacana Tarot.

Ada tiga tipe klien yang membuat katu Tarot yang terambil sulit untuk di-interpretasikan. Artinya pewacana sulit mendapatkan intuisi dari pikiran bawah sadarnya. Ketiga tipe itu yaitu:

Klien Yang Menutup Diri
Adalah klien yang tidak mengizinkan pewacana Tarot untuk meng-akses pikiran bawah sadarnya. Biasanya hal ini dilakukan oleh klien yang mempunyai kesalahan yang ditutup-tutupi atau klien yang mempunyai trauma masa lalu yang tidak ingin ia ingat-ingat lagi. Hal ini juga sering terjadi pada orang yang ingin menguji keterampilan pewacana. Yaitu klien yang sengaja menutup dirinya agar tidak terbaca oleh pewacana Tarot.

Klien Yang Super Bingung
Adalah klien yang tidak tau apa yang ia inginkan. Klien seperti ini biasanya mempunyai karakter plegmatis yang dominan. Cirinya adalah klien tersebut sering memendam keinginan pribadinya dalam-dalam. Karena dipendam terlalu dalam, maka sulit untuk dirasakan kembali apa yang sebenarnya diinginkan.

Kegiatan memendam keinginan ini sebenarnya adalah efek dari karakter plegmatis yang diturunkan atau dipelajari dari ayah atau ibunya. Yaitu sifat seseorang yang selalu menghindari konflik. Caranya adalah dengan menuruti keinginan orang lain dan mengesampingkan keinginan pribadinya. Orang seperti ini menjalani hidupnya dengan kecerdasan inderawi atau sensoris. Artinya hidupnya dijalani dengan merespon keadaan lingkungan. Efek negatif dari kebiasaan ini adalah kehilangan jati diri. Sehingga klien tersebut bingung tentang apa yang benar-benar ia inginkan. Aura kebingungan ini akan membuat pikiran bawah sadar klien mengambil kartu yang mencerminkan kebingungannya. Wajarlah jika pewacana Tarot menjadi bingung saat berusaha menginterpretasikannya.

Klien Yang Super Sadar
Adalah klien yang telah dewasa pikirannya dan mempunyai kemampuan pengendalian diri yang sangat tinggi. Klien seperti ini biasanya telah mempunyai kesadaran spiritual. Yaitu telah menyadari bahwa dirinya bukanlah pikiran, perasaan, atau tubuh, melainkan ruh yang berada di balik semua itu. Dengan kesadaran seperti ini, ia akan mampu mengendalikan pikiran, perasaan, dan tubuhnya, untuk mewujudkan masa depan yang ia inginkan.

Vibrasi gelombang aura klien yang super sadar sangatlah halus, yaitu mempunyai frekuensi dominan yang sangat rendah (hampir tidak berpikir) dengan amplitudo yang sangat kecil (emosinya tidak gampang terpengaruh). Aura semacam ini membuat tangan klien yang mengambil kartu Tarot digerakkan oleh pikiran sadarnya, dan bukan oleh pikiran bawah sadarnya. Hal ini biasanya terjadi karena wilayah kesadarannya telah menyadari wilayah pikiran bawah sadarnya. Artinya klien bisa tetap sadar walaupun gelombang otak turun ke frekuensi tetha.

Klien dengan tipe super sadar biasanya pikirannya tenang dan hatinya damai. Hidupnya dijalani dengan mengalir. Yaitu hanya menginginkan apa yang seharusnya diinginkan. Dan apapun yang diinginkannya akan mampu ia wujudkan. Sehingga kartu Tarot yang terambil akan tidak beraturan polanya. Karena biasanya saat mengambil kartu sang klien tidak ada keinginan apa-apa. Kalo saja ia ingin kartunya bagus, maka hanya kartu bagus yang terambil.

Wajarlah jika pewacana Tarot kesulitan memprediksi atau meramal masa depannya. Karena masa depan klien seperti ini terserah kepada dirinya sendiri. Ia akan mampu membolak-balikkan masa depan sesuai dengan apa yang seharusnya ia wujudkan.

Kesimpulan
Untuk pewacana Tarot diharapkan terus-menerus meningkatkan keahliannya untuk membantu diri sendiri dan orang lain. Sebaiknya setiap sesi konsultasi dilakukan dengan optimal. Yaitu dengan memperhatikan kesiapan pewacana, faktor lingkungan, dan teknik konsultasi yang sesuai dengan keadaan lingkungan dan klien.

Kembangkanlah metode alternatif untuk mengatasi kekurangan metoda ramalan kartu Tarot. Yaitu saat menghadapi klien yang menutup diri, super bingung, atau super sadar. Karena ketiga tipe klien tersebut akan membuat kartu yang terambil sulit diinterpretasikan.

Kekacauan pola kartu yang terambil disebabkan oleh bekerjanya hukum tarik-menarik pada lingkungan yang merespon ketiga tipe klien tersebut.