Dalam
sesi konsultasi menggunakan media kartu Tarot, menurut pendapat saya
sebenarnya terjadi proses duplikasi. Yaitu proses yang berlangsung
secara tidak disadari yang mengakibatkan klien meniru kondisi mental
dan tingkah laku konselornya. Hal ini merupakan salah satu proses
penting pada terapi tarot cur-hat yang saya kembangkan. Untuk lebih
jelasnya, saya akan mencoba menerangkan proses duplikasi dari
beberapa sudut pandang.
Multi
Level Marketing (MLM)
Kata
duplikasi pertama kali saya dengar ketika menjual produk secara
jaringan pemasaran bertingkat (Multi Level Marketing). Setiap penjual
dianjurkan untuk mengembangkan jaringan pemasaran dengan merekrut
anggota jaringan yang baru. Setiap penjual bertanggung-jawab atas
jaringan pemasaran yang dikembangkannya. Uniknya adalah, ternyata
setiap jaringan mempunyai karakter pemasaran seperti penjual senior
yang merekrutnya. Inilah yang disebut duplikasi dalam jaringan
pemasaran bertingkat.
Konsekuensi
dari proses duplikasi ini adalah, penjual senior yang malas bekerja
secara tidak sadar akan membangun jaringan pemasaran yang berisi
orang-orang yang malas juga. Sedangkan penjual senior yang rajin akan
sukses membangun jaringan pemasaran yang berisi orang-orang yang
rajin bekerja. Sehingga dalam dunia jaringan pemasaran bertingkat
dikenal sebuah prinsip: “Lebih baik membangun jaringan pemasaran
yang baru, daripada memperbaiki jaringan pemasaran yang salah metode
dari awal”. Dalam istilah lain dikenal juga slogan: “Aura
perusahaan adalah sebagaimana aura pimpinannya”.
Vibrasi
Aura
Aura
adalah medan energi yang menyelimuti tubuh fisik makhluk hidup.
Bahkan makhluk halus yang tidak mempunyai tubuh fisik-pun mempunyai
medan energi aura. Medan energi aura berupa pancaran gelombang
elektromagnetik yang mempunyai frekuensi dan intensitas tertentu.
Medan aura ini bisa dideteksi menggunakan foto aura. Setiap perbedaan
frekuensi akan mengakibatkan perbedaan warna aura. Warna aura ini
menginformasikan tentang karakter dari makhluk hidup itu.
Manusia
sebagai makhluk sosial membutuhkan kegiatan untuk berinteraksi antara
yang satu dengan yang lainnya. Interaksi ini dilakukan dengan cara
berkomunikasi, baik komunikasi secara verbal maupun secara non
verbal. Komunikasi yang dilakukan oleh beberapa orang tentunya akan
mengakibatkan reaksi antara medan aura di sekitar tubuh fisik. Hal
ini akan menyebabkan proses saling mempengaruhi warna aura. Orang
dengan intensitas aura yang kuat akan mampu mempengaruhi orang-orang
dengan intensitas aura yang lebih lemah.
Neuro
Linguistic Programing (NLP)
Dalam
buku-buku tentang pemrograman bahasa syaraf (Neuro Linguistic
Programing), dikenal istilah Mirror Neuron. Mirror Neuron adalah
sel-sel syaraf cermin yang aktif disaat tertentu. Sel-sel syaraf
tersebut aktif di saat: mengalami suatu peristiwa, mengingat
peristiwa yang pernah dialami, atau melihat peristiwa pada orang lain
yang pernah dialami oleh pengamat. Jadi sel-sel syaraf cermin tidak
bisa membedakan antara peristiwa yang dialami sendiri, dialami dalam
ingatan, atau dialami oleh orang lain. Ketiga kondisi itu akan
membuat sel-sel syaraf cermin aktif.
Untuk
lebih jelasnya coba kita simak salah satu contoh yang ajaib berikut
ini. Setelah peristiwa tsunami di Aceh, ada seorang bapak yang tampak
sangat trauma dengan peristiwa itu. Bapak tersebut tampak murung
dalam kesedihan karena kehilangan seluruh harta benda dan
keluarganya. Kondisi ini diperparah dengan sikap sang bapak yang
tidak mau makan. Selama beberapa hari hanya air minum yang mengisi
perutnya. Maka relawan bencana mendatangkan seorang terapis NLP untuk
mengatasi masalah ini.
Pada
awalnya sang terapis hanya duduk di tempat yang jauh tepat di arah
depan bapak itu. Yang dilakukan oleh sang terapis hanyalah mengikuti
gerak-gerik dari bapak yang malang itu. Jika bapak itu berdiri, maka
sang terapis ikut berdiri. Jika bapak itu memegang kepala, maka sang
terapis juga ikut memegang kepala. Setelah beberapa jam berlalu, sang
terapis merasakan keterhubungannya dengan bapak itu. Dalam
keterhubungan inilah sang terapis membangkitkan rasa ingin makan
sambil berjalan ke arah bapak itu. Dan secara ajaib, bapak itu-pun
meminta makan pada sang terapis tersebut.
Duplikasi
pada Sesi Konsultasi Tarot
Pada
terapi tarot cur-hat yang saya kembangkan, tujuannya adalah
meningkatkan ketenangan bathin klien saya. Karena jika bathin klien
tenang, maka secara automatis masalah klien-pun akan hilang dengan
sendirinya. Hal ini sesuai dengan hukum tarik-menarik (Law of
Attraction). Yaitu jika klien resah, maka akan menarik peristiwa masa
depan yang meresahkan ke dalam kehidupannya. Sedangkan jika klien
tenang, maka akan menarik masa depan yang baik-baik saja ke dalam
kehidupannya.
Untuk
menenangkan bathin klien, saya melakukan duplikasi. Yaitu berusaha
menciptakan kehidupan saya pribadi yang selalu baik-baik saja. Hasil
dari memperbaiki kehidupan pribadi ini akan menenangkan bathin saya
sendiri. Ketenangan bathin saya dengan intensitas yang kuat inilah
yang mampu membawa klien untuk meningkatkan ketenangan bathinnya
melalui proses duplikasi. Dan secara ajaib, tidak lama setelah sesi
konsultasi, maka masalah-masalah klien akan hilang dengan sendirinya.
Mengajar
Dalam Diam
Entah
mengapa saya merasa perlu untuk menyampaikan pokok bahasan mengajar
dalam diam. Walaupun hal ini tidak ada hubungannya secara langsung
dengan sesi konsultasi menggunakan kartu tarot. Tetapi materi
pelajaran ini terkait erat dengan konsep duplikasi. Yaitu berusaha
menyadari bahwa kita tidak bisa memperbaiki kehidupan orang lain.
Kita hanya mampu untuk memperbaiki kehidupan pribadi diri kita
sendiri. Ciri-ciri kehidupan pribadi yang sudah baik salah-satunya
adalah pikirannya tenang sehingga hatinya damai.
Dalam
komunitas Klub Tarot Jakarta tempat saya bersosialisasi, banyak
sekali muda-mudi yang telah merintis karirnya sebagai seorang Tarot
Reader. Pada usia mereka yang relatif muda, banyak juga yang kondisi
pikirannya sudah tenang. Semakin lama bergaul dengan mereka, akhirnya
saya mengetahui dari mana sumber ketenangan itu. Sebagian besar dari
mereka sudah pernah mengalami kesulitan hidup yang sangat besar.
Sehingga setelah mengatasi kesulitan itu, maka kepercayaan dirinya
meningkat. Diri yang tenang adalah diri yang yakin bahwa semua pada
akhirnya akan baik-baik saja. Sejak dulu baik-baik saja, saat ini
baik-baik saja, dan pastilah masa depan juga tidak akan apa-apa.
Masalah dan solusi yang dialami silih berganti hanyalah laksana
menonton film di layar televisi. Tidak perlu dirisaukan, hanya perlu
menikmati alur kisah dan sabar menunggu akhir cerita.
Ketenangan
bathin seperti ini akan tercermin pada tingkah lakunya sehari-hari.
Bahkan jika di-foto, aura orang-orang seperti ini akan cerah dan
menyilaukan. Perbuatannya akan selalu menginspirasi, kata-katanya
akan selalu memotivasi, pemikirannya akan selalu menjadi solusi, dan
bahkan kehadirannya saja sudah dapat menentramkan hati. Dengan
bergaul di Klub Tarot Jakarta, saya merasakan sensasi yang berbeda
dengan komunitas-komunitas hobi yang pernah saya geluti. Sepulang
dari acara gathering komunitas, selalu saja ada hal yang membekas.
Kadang-kadang berupa ide-ide yang baru, kadang-kadang berupa
ketentraman hati, dan kadang-kadang juga berupa semangat hidup yang
membara kembali.
Ternyata
guru-guru kehidupan itu tidak membutuhkan teori dan kata-kata. Mereka
cukup menjaga kejujuran dan konsisten menjadi dirinya sendiri. Maka
orang-orang yang bertemu dengan mereka akan ikut termotivasi untuk
berani tampil menjadi dirinya sendiri. Yaitu menjalani kehidupan
sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya, sesuai dengan minat dan
bakatnya, sesuai dengan misi kelahirannya, dan semua itu berarti
sesuai dengan jalan kebahagiaan serta keberuntungannya. Saat ini
sedang berlangsung krisis moral yang sangat parah, yang secara
bersamaan menyuburkan kebangkitan kesadaran di seluruh muka bumi.
Proses duplikasi adalah salah-satu jawaban untuk mengatasi krisis
ini. Yaitu dengan meningkatkan kesadaran diri sendiri, menjaga
kejujuran, dan konsisten dalam berkarya untuk memberikan kontribusi
pada lingkungan.